/

Umat Orthodox di Minahasa Rayakan Kamis Kudus

5 mins read
Orthodox Minahasa Kamis Kudus
Pembasuhan Kaki dalam rangkaian perayaan Kamis Kudus umat Orthodox di Minahasa (foto dokumentasi umat)

KANALMETRO, MINAHASA – Kamis (21/4/2022), umat Orthodox merayakan perayaan hari Kamis Kudus.

Perayaan Kamis Kudus juga dirayakan oleh umat Orthodox yang ada pada Parokia Js Gregorius dari Nyissa di Desa Raringis Selatan, Kecamatan Langowan Barat, Kabupaten Minahasa. Rangkaian perayaan diawali dengan sembayang Senja dan Liturgi yang pertama dan yang kesekian kalinya.

Romo Michael Momongan mengatakan bahwa hal itu dilakukan guna meneladani Yesus Kristus saat membasuh kaki para muridNya. Dan hal serupa juga dilakukan kepada sesama umat setempat.

Sore menjelang malam yakni pukul 18.00 Wita dilanjutkan dengan Sembayang malam Kamis Kudus. Hal itu ditandai dengan Pembacaan 12 Injil dan arak-arakan Salib Kristus.

Perarakan Salib Kristus (foto dokumen umat)

Sekedar diketahui, Minahasa merupakan awal mula masuknya agama Orthodox di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Yakni ketika tahun 2005, Romo Gregorius Adri Momongan, seorang putra Minahasa yang telah menganut agama Kristen Orthodox di Jakarta. Kembali ke tanah kelahirannya Desa Raringis, Kecamatan Langowan Barat, Kabupaten Minahasa.

Kembalinya Romo Greg (sapaan akrab Gregorius, red) adalah untuk memulai pelayanan penyebaran agama Kristen Orthodox di Sulut atau biasa dikenal dengan Bumi Nyiur Melambai.

Langkah pertamanya dimulai dari tempat dirinya dilahirkan yakni di Desa Raringis, Langowan dengan menghadirikan Parokia (sebutan wilayah Gereja Orthodox, red) JS Gregorius dari Nyissa.

Dimana letak gerejanya sebagai pusat peribadatan kini sudah berdiri tegak di Desa Raringis Selatan. Namun baru sekitar tiga tahun melakukan pelayanannya, Romo Greg meninggal dunia pada 20 Februari 2008 .

Romo Michael membasuh kaki umat (foto dokumen umat)

Ketua Gereja Orthodox Indonesia Romo Daniel Byantoro kepada KanalMetro ketika berada di Parokia Js Gregorius dari Nyissa, Juni 2021 menjelaskan awal dirinya bertemu dengan Romo Greg adalah ketika sedang mengajar sejarah pada salah satu sekolah Teologia di Jakarta. Greg merupakan salah satu mahasiswa di sekolah itu.

Usai mendengarkan penjelasan Romo Daniel, Romo Greg yang ketika itu masih bernama Adri Momongan menyatakan akan ikut bersama dalam agama Orthodox.

“Awalnya saya memastikan dulu ke Romo Greg soal keseriusan. Akhirnya saya menyekolahkannya ke Rusia selama tiga tahun. Ketika balik dan benar – benar sudah bisa, disitulah dia pulang ke Minahasa untuk menyebarkan agama Orthodox,” kata Romo yang merupakan putra Indonesia pertama menjadi penganut agama Orthodox.

Sesama umat saling membasuh kaki (foto dokumen umat)

Harapan Daniel, Romo Greg bisa memulai pelayanan dari Kota Manado. Namun pilihannya lain, yakni mengawalinya dari tanah kelahirannya.

“Saya tak bisa lagi melarangnya, tapi membiarkannya untuk terus berkarya karena awalnya berkehendak memulai dari sebuah Kota besar yakni Manado,” jelas Romo Daniel. 

Daniel pun mengaku sempat sedikit terpukul ketika mendengarkan kematian Romo Greg. Hingga akhirnya meminta Michael Momongan sebagai adik dari Romo Greg untuk melanjutkan karya sang kakak.

Michael pun menyetujui, sehingga langsung digembleng untuk menjadi seorang Romo di Kota Solo guna melanjutkan karya pelayanan agama Orhodox di Minahasa.

(foto dokumentasi umat)

“Kami telah menetapkan setiap 20 Februari yang merupakan hari meninggalnya Romo Greg sebagai peringatan sejarah agama Orthodox di Minahasa,” ungkapnya.

Sehingga dari buah pelayanan Romo Greg hingga kini agama Kristen Orthodox mulai tumbuh berkembang di Sulut dengan adanya tiga Parokia, Js Gregorius dari Nyissa di Raringis, Js Mikhael Sang Penghulu Malaikat di Wanea Manado serta Js Stevanus Sang Marti Pertama di Amurang Minahasa Selatan (Minsel).

“Ketiganya sudah ada ijin resmi dari pemerintah. Ada pula komunitas – komunitas yang sedang dibangun di beberapa wilayah, seperti di Tondano untuk Minahasa,” tambahnya.

Arak-arakan Salib Kristus (foto dokumen umat)

Memang dikatakan Romo Daniel jika awalnya kehadiran agama Kristen Orthodox di Sulut sempat mengalami kesulitan berupa penolakan warga lain namun tak terlalu nampak lantaran bukan tindakan fisik. Bahkan bukan pula berupa tidakan yang frontal, namun mereka tak mempermasalahkannya.

Buktinya sampai saat ini kehadiran agama Orthodox di Sulut tak lagi menemui hambatan. Salah satu hal yang membuat jalannya mulus adalah setiap pemimpinya adalah warga lokal agar benar – benar paham dengan budaya setempat.

Romo Michael menambahkan untuk di Raringis ketika itu ada 10 Kepala Keluarga (KK) yang telah menjadi umat dalam Gereja Orthodox Js Gregorius dari Nyissa.

Latest from Same Tags