22 July 2024

Masyarakat Adat Diharapkan Terus Rawat Eksistensi

KANALMETRO, PAPUA – Beragam kegiatan Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) IV di Bumi Cendrawasih terus berlangsung. Berdaulat, mandiri dan martabat demi eksistensi masyarakat adat dibedah dalam berbagai sarasehan yang tersebar di kampung adat Tanah Tabi. Eksistensi masyarakat adat diharapkan dapat dirawat.

Ondoafi Kayo Pulo, Nicolaas Jouwe mengatakan, atas nama masyarakat Kayo Pulo menyambut suka cita KMAN VI.

“Saya Ondoafi, atas nama masyarakat Kayo Pulo, kami menyambut sukacita KMAN VI, terlebih khusus sarasehan yang dilaksanakan di kampung ini,” kata Jouwe.

Menurutnya, banyak harapan ditaruh Masyarakat Adat Nusantara terlebih khusus masyarakat adat Papua dari KMAN VI.

“Saya berharap, sarasehan yang diselenggarakan dikampung adat Kayo Pulo bisa mendapat hasil, kesepakatan atau keputusan-keputusan yang nanti bisa rekomendasikan ke berbagai pihak dalam hal ini ke pemerintah, bagaimana tetap merawat, bagaimana menjaga, bagaimana tetap merawat eksistensi adat di kehidupan kita yang semakin global ini yang penuh dengan perubahan apa saja di setiap bidang kehidupan masyarakat,” katanya.

Ditambahkannya, perubahan dunia bisa terjadi di ekonomi yang semakin maju, teknologi yang semakin luar biasa perkembangannya, tapi masyarakat adat tidak boleh berubah dan nilai-nilai itu tidak boleh bergeser.

“Kami manusia sebagai anak-anak adat yang diwariskan budaya yang luar biasa karena disitulah esensi kita sebagai manusia yang Tuhan berikan kepada kita,” ujarnya.

“Ini harus dijaga dan dirawat karena kita generasi apa yang kita lakukan saat ini, untuk menjaga kelangsungan hidup generasi-generasi kita ke depan,” sambungnya.

Ia menuturkan, setiap daerah mempunyai adat istiadat yang luar biasa dan ini perlu terus membangun hubungan baik. Sarasehan yang dilaksanakan di Kayo Pulo dilihat sebagai bingkai persaudaraan.

“Harapan kami di awal, bahwa sudara-sudara kita dari Nusantara dapat tinggal dengan kita dikampung Kayo Pulo sehingga terjadi tukar-menukar informasi, bagaimana saling bercerita tentang adat istiadat, mengenal adat bukan hanya di tanah Papua, tetapi saudara-saudara yang datang saling bercerita bagaimana menjaga adatnya, merawat alamnya, bagaimana mereka menghargai tanahnya sebaik-baiknya untuk kepentingan kehidupan ke depan,” tandasnya.

Diketahui, sarasehan yang dilaksanakan di Pulo Kayo, 25-26 Oktober membahas dua tema yakni “Karbon di Wilayah Adat, Berkat atau Kutuk,” dan “Situasi dan Tantangan Ruang Hidup Masyarakat Adat di Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil”.