13 April 2024

/

Sederhana, Perayaan HUT 596 Sangihe dan Upacara Adat Tulude

2 mins read

SANGIHE – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Sangihe ke 596 dan upacara adat Tulude di Papanuhung Santiago Tampungang Lawo, Minggu (31/1/2021) dilaksanakan secara sederhana karena dalam masa Pandemi Covid-19.

Bahkan terpantau jumlah yang menghadiri perayaan yang dilaksnakan tiga ritual adat itu hanya sekitar 100 orang dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Ketua Badan Adat Sangihe Olden Ambui menjelaskan tiga ritual adat yang digelar yakni kakumbaede (kata-kata adat), Menahulending Mengundang Banua yang artinya mendoakan agar daerah kita jauh dari
marabahaya dan Menahulending Tembonangnge artinya mendoakan Bupati
serta jajarannya agar dapat bekerja dengan baik untuk dapat melayani masyarakat dan ketiga Pemotongan Kue Adat Tamo.

“Memang perayaan tahun ini dibuat sesederhana mungkin karena situasi
saat ini. Dan kesan saya sebagai ketua badan adat Sangihe, pada perayaan Tulude kali ini memang sangat hikmah dan luar biasa meski undangan dibatasi,” ungkap Ambui.

Sementara itu, Bupati Kepulauan Sangihe Jabes Gaghana dalam sambutannya mengungkapkan patut disyukuri perayaan HUT 596 dan Upacara Adat Tulude karena dapat dilaksanakan meski ditengah pandemi Covid-19. Diakuinya, kearifan lokal masyarakat Sangihe merupakan hasil dan bukti dari sejarah perjalanan panjang kehidupan masyarakat adat Sangihe selama 596 tahun di tahun 2021 ini.

“Di beranda terdepan NKRI bahkan hampir diseluruh daerah di Indonesia,
kearifan lokal masyarakat Sangihe melalui upacara adat Tulude masih
terus tumbuh subur dan lestari,” tambah Gaghana.

Lanjut Gaghana, upacara adat Tulude merupakan salah satu identitas dari keberagaman budaya dan wadah pemersatu bagi segenap warga nusa utara dalam melestarikan peninggalan warisan para leluhur. Sekaligus penangkal arus modernisasi dalam menjaga khasanah kearifan lokal, budaya terus mengakar kuat dalam menghadapi arus globalisasi serta memupuk rasa kebersamaan, kekeluargaan, persaudaraan dan sebagai aset primer daerah di bidang pariwisata.

“Sebagai pelaku dalam karya pelestarian budaya daerah yang merupakan integral dari budaya nasional, paling tidak dalam kehidupan sehari-hari kita mampu mengaplikasikan kebanggan nasional seperti pembudayaan bahasa Sangihe. Hal ini perlu terus kita pupuk dalam kehidupan sehari-hari agar budaya adat istiadat kita tidak tergerus arus globalisasi bahkan mampu berdiri kuku bersanding dengan budaya lain,” pungkasnya. (iwan)

Latest from Same Tags