KANALMETRO, TOMOHON – Banyak kisah dan nostalgia tempo dulu akan dikupas tuntas dalam sebuah buku berjudul I Remember Tomohon (sub title, Kantoro pah Liuzen)yang segera terbit.
Penulis menamakan buku itu I Remember Tomohon karena akan banyak menulis dan mengulas berbagai kumpulan cerita rakyat orang biasa dalam “petite histoire” (sejarah kecil) tentang Tomohon yang belum diketahui banyak orang.
Termasuk berbagai cerita, kisah dan peristiwa yang pernah terjadi atau cerita legenda serta mitos dari masa lampau namun masih menjadi relevan dimasa kini.
Hal itu juga terungkap ketika bedah buku tersebut di Wise Hotel Tomohon, Rabu (3/11/2021).
Yudi Turambi selaku penulis buku mengatakan jika rencananya berbagai hasil penulisannya akan diluncurkan tepat saat HUT Kota Tomohon ke 19 nanti.
Dalam buku tersebut diawali dengan cerita legenda wanita ‘Moeoeng’ tentang asal mula nama Tomohon, Negeri Sarongsong dan Kakaskasen, legenda Danau Linow, cerita Doru Siw Kurur, Dotu Tumalun, Tololiu Tua, cerita zaman Portugis, Spanyol hingga Jepang, cerita Lukas ‘Werwer’ Wenas, Oara zendeling memprotestankan Tomohon, Lumintjewas dan Raintung.
Selanjutnya Danau Linow didatangi Pangeran dari Italia, Alfred Russel Wallace di Tomohon, orang Tionghoa berambut kuncir, Ting Eng Poo, Ds A.Z.R Wenas, Pesawat baling-baling mendarat di Kakaskasen, Gereja Besi didirikan, Gereja Sion dibangun.
Selain itu RS Gunung Maria dan RS Bethesda dibangun sampai perintis drum band, cerita Babe Palar, Henk Ngantung sampai berdirinya Kota Tomohon dan masih banyak lagi.
“Sekitar 250 halaman berisikan 210 cerita rakyat mulai tentang Bisokop Sonya, Baluran, sekolah Chinadan Belanda yang dibangun oleh para misionaris baik Katolik dan Protestan,” kata Turambi.
Ada pula kisah perjalanan salah satu klub bola voli legenda di Sulut yakni IVoS Tomohon.
“Adegiun Latin menyebutkan Verba Volant Scripta Manent, apa yang diucapkan akan hilang, tetapi apa yang ditulis akan abadi,” terang Turambi.
Penulis yang telah berhasil berkontribusi diangkatnya Babe Palar menjadi Pahlawan ini juga menjelaskan, keinginan menulis terkait buku ini didasari oleh semangat melestarikan sejarah untuk anak cucu dimasa mendatang.
Turambi pun mengatakan jika Orang Tomohon se dunia ‘wajib’ baca agar semua cerita kisah yang pernah terjadi akan mengingatkan kita pada Tomohon dan jangan sampai dilupakan (kantoro pah liuzen) bahkan terus dilestarikan agar menjadi warisan tak benda buat anak cucu di masa datang.
“Perlunya dokumentasi kehidupan masa lampau Tomohon, agar anak cucu kita dipuluhan tahun mendatang bisa mengetahui cerita dan situasi yang ada,” harapnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Tomohon Masna Pioh mengapresiasi akan ide brilian dan semangat penulisan buki tersebut.
Karena menurut Pioh kehadiran buku ini sangat berarti sekali terlebih bagi pariwisata Tomohon. Karena hal seperti ini sangat perlu dijaga dan dikenang sebelum hilang ditelan zaman.
“Setidaknya sudah ada yang menjadi dasar. Kalau bisa memberi usul terkait pemberian judul mungkin bisa dipikirkan lagi, karena disini terlihat kolaborasi dua bahasa yakni Inggris dan Tombulu sehingga bisa lebih disesuaikan dengan target pembacanya nanti,” terang Pioh.
Lexy Paat, salah satu saksi sekaligus pelaku sejarah olahraga Tomohon yakni pelatih Ikatan Voli Sion (IVos) tahun 1970 dan juga menjadi bagian dari sumber cerita dalam buku tersebut mengaku sangat bangga ada yang mau menuliskan terkait cerita seperi ini.
“Perjalanan olahraga voli di Tomohon perlu diketahui, kenapa diberi nama IVos yang merupakan singkatan dari Ikatan Voli Sion, karena tim kami terbentuk saat latihan di lapangan depan Gereja Sion. Dimana dari klub ini juga sempat lahir seorang atlet voli Tomohon yakni Simon Pandey yang masuk tim nasional,” terang Paat yang dikenal dengan sapaan akrab Lepa.
Sementara Yerry Tawalujan Ketua Umum Duta Wisata Sulawesi Utara mengatakan jika buku tersebut akan memiliki nilai yang sangat mahal.
“Sangat berarti bagi kami pemandu wisata, karena dari sini bisa dijelaskan terkait apa yang ada di Tomohon, baik lewat sejarah dan budaya. Semoga buku ini bisa segera terbit dan kalau bisa pemerintah bisa memfasilitasi serta menjadikan cenderamata bagi tamu ketika ke Tomohon,” tambah Tawalujan.
Nampak hadir juga dalam bedah buku tersebut sejumlah tokoh masyarakat dan pelaku sejarah di Tomohon seperti Ibrahim Tular, Ronny Pandey, Lexi Wenas serta beberapa keluarga dari para sumber cerita.

