23 June 2024

//

Perdagangan Daging Anjing dan Kucing di Pasar Ekstrim Tomohon Dihentikan

4 mins read
daging anjing pasar tomohon
Tim HSI menyelamatkan sejumlah anjing yang hendak dijual di Pasar Ekstrim Tomohon dan di bawa ke shelter penangkaran, Jumat (21/7/2023). (foto: paul bawole)

KANALMETRO, TOMOHON – Terhitung Jumat (21/7/2023), Pemerintah Kota (Pemkot) Tomohon menghentikan perdagangan daging Anjing dan Kucing di Pasar Ektrim.

Pelarangan untuk melakukan perdagangan daging Anjing dan Kucing di Pasar Ektrim Tomohon dilakukan oleh Pemkot bersama Humane Society International (HSI).

Sebagai upaya penghentian maka sejumlah jajaran Pemkot yang dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda), Edwin Roring dan tim dari HSI mendatangi langsung area penjualan daging di Pasar Ektrim Tomohon. Serta membawa sejumlah anjing yang masih dalam kondisi hidup ke shelter penangkaran.

Edwin Roring mengatakan hal itu dilakukan sesuai dengan Undang – undang (UU) nomor 18 tahun 2012 tentang peternakan dan kesehatan hewan, UU nomor 41 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 18 tahun 2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan serta UU nomor 18 tahun 2012 tentang kesehatan masyarakat veteriner dan kesejahteraan hewan.

Termasuk Peraturan Daerah (Perda) Kota Tomohon nomor 1 tahun 2017 tentang pengendalian dan penanggulangan rabies. Serta instruksi Wali Kota Tomohon nomor 108/WKT-2023 tentang peningkatan pengawasan, pengendalian dan penanggulangan terhadap peredaran dan perdagangan terhadap hewan penular rabies.

Dia juga mengatakan bahwa daging Anjing dan Kucing bukan pangan sehat karena karena berpotensi menjadi sumber penyebaran berbagai penyakit asal hewan seperti virus rabies, African Swine Paver (ASF) maupun penyakit zoonosis lainnya.

“Saat ini berbagai penyakit tersebut dimana – mana sedang melonjak. Serta besarnya sorotan publik international tentang kekerasan terhadap hewan, dan hal itu memiliki dampak kurang baik di sektor pariwisata,” tambah Edwin Roring.

Oleh karena itu Pemkot Tomohon demi melindungi keselamatan dan kesehatan masyarakat mengambil langkah – langkah sebagai pencegahan. Salah satunya adalah dengan mengeluarkan aturan – aturan yang dibutuhkan.

Dia juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Kota Tomohon untuk mengkomsumsi dari sumber makanan hewani lebih higienis yang berasal dari sumber jelas seperti produk peternakan setempat.

Selain itu agar menghentikan segala perdagangan daging Anjing dan Kucing maupun semua produk turunannya yang tanpa dilengkapi dengan surat kesehatan hewan di area pasar Tomohon. Maupun mengkomsumsi dari sumber makanan yang sehat.

Agar nantinya kedepan Tomohon akan lebih dikenal sebagai Kota dengan alam yang indah dan aman dari berbagai penyakit menular.

Atas upaya itu pihak HSI menyerahkan penghargaan kepada Pemkot Tomohon berupa piagam.

Tanggapan Pemerhati Budaya

Sementara itu Pemerhati Budaya Minahasa, Joudy Aray kepada Kanal Metro ketika dimintai tanggapannya akan hal tersebut mengatakan bahwa Anjing sudah merupakan bagian dari kehidupan dan kebutuhan masyarakat. Terlebih bagi masyarakat yang berada di Etnis Minahasa serta sub Etnis Tombulu didalamnya Tomohon.

“Kenapa menjadi bagian dari kehidupan serta kebutuhan, karena bisa jadikana sebagai penjaga keamanan, berburu dan termasuk konsumsi ketika ada perayaan pesta, syukur, duka. Namun untuk Anjing bukan menjadi konsumsi harian masyarakat, melainkan hanya ketika ada momen tertentu,” tambah Dia.

Bukan saja itu, Dia juga mengatakan bahwa Anjing juga sudah menjadi bagian dari budaya Minahasa yakni Mapalus atau budaya gotong royong.

“Misalkan ketika ada yang akan mengadakan perayaan syukur. Maka ada beberapa masyarakat yang memberikan bantuan daging diantaranya Anjing. Dan saat masyarakat yang memberi, kedepan ada perayaan maka akan dibalas oleh penerima sebelumnya. Ini untuk memperingan biaya saat akan berpesta,” tambah Joudy Aray.

Dia juga mengatakan bahwa upaya pelarangan penjualan di Pasar perlu ada kajian matang. Karena disatu sisi meski tidak di Pasar, masyarakat masih juga bisa bertransaksi jual beli daging tersebut.

Kenapa demikian, karena banyak masyarakat yang berkeinginan menjual Anjing mereka untuk dikonsumsi orang lain karena faktor ekonomi.

“Kadang kala ketika ada masyarakat yang membutuhkan dana mendesak seperti biaya Pendidikan. Maka mereka menjual Anjing peliharannya kepada orang yang membutuhkan seperti ketika akan membuat sebuah perayaan pesta, dan ini membantu secara ekonomi,” pungkas Dia. (Wailan)

Latest from Same Tags