KANALMETRO, TOMOHON – Kampung Adat Touwulu, yang terletak di Kelurahan Walian Satu, selatan Kota Tomohon, Sulawesi Utara, menawarkan pengalaman mendalam dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Nusantara.
Hanya sekitar 10 menit dari pusat Kota Tomohon, Kampung Adat Touwulu ini menjadi destinasi unggulan bagi pencinta budaya.
Djoli Joudy Aray, pemilik sekaligus budayawan Tomohon yang dikenal sebagai musisi dan arranger lagu, memprakarsai Kampung Wisata Rumah Budaya Nusantara (RBN) Wale Mazani dengan tujuan melestarikan serta memajukan kebudayaan Sulawesi Utara, khususnya Minahasa. Kampung ini berupaya berkembang dari produksi dan pembuatan seni serta aksesoris Minahasa menjadi pusat kegiatan seni yang komprehensif.

“Sejak 2012, RBN Wale Mazani hadir berkomitmen untuk mendaftarkan Kolintang sebagai Warisan Budaya Tak Benda Minahasa di UNESCO. Berbagai fasilitas mendukung upaya ini, termasuk Monumen Kolintang, Museum Kolintang, dan Galeri Seni & Bengkel Kolintang. Selain itu, terdapat Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kolintang, Jembatan Kolintang, Menara Kolintang, serta fasilitas seperti Café & Resto dan Homestay yang bernuansa Kolintang. Mazani Park juga menyediakan area untuk kegiatan outbond dan camping,” terang Aray.
Lebih lanjut dijelaskan, Kampung Wisata Ma’zani juga berkomitmen untuk melestarikan seni budaya Minahasa lainnya, seperti Ma’zani, Maengket, Kawasaran, Karambangan/Makaaruyen, Tetengtengen, Musik Bambu, dan Tutuasan, guna memastikan warisan budaya ini tetap hidup di era modern.
“Kampung Adat Touwulu, yang merupakan bagian dari Kampung Wisata Ma’zani, memperlihatkan cara hidup masyarakat Minahasa di masa lalu yang harmonis dengan alam. Lokasi ini memiliki beberapa sumber mata air dan dikelilingi oleh pohon bambu, yang dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, termasuk pembuatan alat makan dan minum serta struktur bangunan,” tambahnya.

Pada bulan November 2023, Kampung Adat Touwulu menyelenggarakan Ritual Adat Minahasa ‘Tumoorz Um Wanua Touwulu’, disaksikan oleh wisatawan lokal dan melibatkan berbagai kelompok seniman seperti Ma’zani dan Ansambel Musik Kolintang Kayu (AMKK) Minahasa. Ritual ini menjadi syarat untuk memulai aktivitas di Kampung Adat Touwulu.
Djoli Joudy Aray menegaskan bahwa pembangunan Kampung Adat Touwulu bertujuan untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan kebudayaan nasional, khususnya kebudayaan Minahasa.
“Kampung ini berfungsi sebagai pusat pelestarian budaya, pendidikan, pertunjukan, dan pengalaman budaya yang mendalam. Bagi pengunjung, tempat ini untuk menyelami kekayaan budaya Minahasa dan mendukung upaya konservasi yang signifikan,” tukasnya.

