31 January 2026

Goresan Cantik di Balik Jeruji: Perempuan, Ibu, dan Upaya Memutus Rantai Masa Depan Gelap Anak

8 mins read
lpp manado
Aktivitas membatik salah satu warga binaan di LPP Manado

KANALMETRO, TOMOHON – Di balik tembok tinggi Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIB Manado, waktu berjalan dengan ritme yang berbeda. Pagi tidak selalu dimulai dengan kebisingan, melainkan dengan ketekunan. Goresan halus canting yang menyentuh kain putih, perlahan membentuk motif, seolah menyulam ulang kepingan hidup yang pernah terlepas.

Di ruang kerja sederhana itu, perempuan-perempuan warga binaan menjalani hari bukan hanya sebagai narapidana, tetapi sebagai ibu, sebagai perempuan, dan sebagai manusia yang sedang berusaha memperbaiki masa depan.

Bagi sebagian besar warga binaan di LPP Manado, status sebagai ibu melekat kuat dalam setiap aktivitas yang mereka jalani. Anak-anak yang tumbuh di luar tembok LPP menjadi bayangan yang terus hadir dalam pikiran, memunculkan rasa rindu, penyesalan, sekaligus tekad untuk berubah. Di sinilah pembinaan perempuan menemukan maknanya yang paling mendalam bukan sekadar menjalani pidana, tetapi menjadi upaya sadar untuk menghentikan lingkaran kesalahan agar tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam sistem pemasyarakatan modern, pembinaan perempuan dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang. Ketika seorang ibu gagal kembali mandiri setelah bebas, resiko yang muncul bukan hanya pada dirinya, tetapi juga pada anak-anaknya yang rentan tumbuh dalam kemiskinan, trauma, dan keterbatasan akses sosial. Karena itu, pembinaan di dalam LPP tidak lagi dimaknai sebatas pengawasan, melainkan proses pemulihan yang menyentuh aspek spiritual, relasi keluarga, dan kemandirian ekonomi.

Salah satu bentuk konkret dari pendekatan tersebut terlihat melalui program kemandirian membatik yang dikembangkan LPP Kelas IIB Manado sejak 2021. Melalui produk Batik L’Prado, keterampilan ekonomi dipadukan dengan ruang pemulihan psikologis. Setiap motif yang dihasilkan bukan hanya bernilai jual, tetapi juga menjadi media refleksi, ketekunan, dan pengendalian emosi bagi perempuan yang menjalani masa pembinaan jauh dari peran keibuan yang selama ini mereka jalani.

Dalam konteks inilah pembinaan perempuan ditempatkan sebagai strategi penting dalam memutus mata rantai kriminalitas lintas generasi sebuah pendekatan yang dimulai dari pemulihan manusia, bukan semata penegakan hukuman.

Dari balik jeruji, batik menjadi media pemulihan bukan hanya bagi perempuan yang menjalani masa pidana, tetapi juga bagi anak-anak yang menunggu di rumah. Karena pembinaan perempuan bukan hanya tentang masa lalu seorang ibu, tetapi tentang masa depan anak-anak yang menunggu di luar tembok penjara.

Melalui pembinaan yang menyentuh spiritual, relasi keluarga, dan kemandirian ekonomi, LPP Manado berupaya memastikan bahwa kesalahan hari ini tidak menjadi warisan bagi generasi berikutnya.

Bagi sistem pemasyarakatan, pembinaan perempuan memiliki posisi strategis dalam memutus mata rantai kriminalitas lintas generasi. Kepala LPP Kelas IIB Manado, Enggelina Hukubun, menegaskan bahwa pembinaan perempuan menyentuh pemulihan yang paling mendasar dalam kehidupan seseorang.

“Dalam pemasyarakatan ada tiga pemulihan dasar, yaitu pemulihan kembali kesatuan hubungan hidup dengan Tuhan, pemulihan kembali kesatuan hubungan kehidupan dengan keluarga dan masyarakat, serta pemulihan kembali kesatuan hubungan penghidupan melalui keterampilan yang diperoleh selama menjalani masa pidana,” ujar Enggelina.

Ia menjelaskan, perubahan spiritual menjadi fondasi awal sebelum warga binaan kembali menata relasi dengan keluarga dan lingkungan.

“Ketiga hal ini harus berjalan bersama, sehingga ketika kembali ke rumah, mereka punya bekal untuk memperbaiki kehidupan dan menekan resiko berulangnya kriminalitas lintas generasi,” katanya.

Mayoritas warga binaan di LPP Manado adalah perempuan yang telah memiliki anak. Dari total 83 WBP, sebanyak 70 di antaranya berstatus seorang ibu. Kondisi ini, menurut Enggelina, berpengaruh langsung pada pola pembinaan yang diterapkan.

“Perempuan itu rentan dan memiliki rasa tanggung jawab lebih terhadap keluarga, terlebih anaknya. Beban psikis dan mental itu kami kolaborasikan dengan pembinaan, bagaimana kehidupan layaknya seorang ibu seperti memasak, menjahit, mencuci, dan kegiatan yang lazim dilakukan di rumah. Pola pembinaan ini sudah diatur secara spesifik dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak,” katanya.

Diantara berbagai pelatihan yang diberikan, membatik dipilih sebagai salah satu program unggulan. Dia menyebut, keterampilan ini dikembangkan bersama pelatihan lain seperti pembuatan roti, salon, barista dan tanaman hias.

“Khusus untuk membatik ini terbagi dalam tiga produk, yakni batik tulis, batik cap, dan ecoprint,” ujarnya.

Program membatik di LPP Manado telah berjalan sejak 2021. Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Kegiatan Kerja, Joune Supit, menjelaskan bahwa pelatihan ini dilakukan secara berkelanjutan.

“Program membatik sudah berlangsung sejak 2021 hingga sekarang, dengan mendatangkan instruktur dari Bima Kunting Solo yaitu ibu Cici. Bahkan salah satu wakil instruktur merupakan mantan WBP di Lapas Perempuan di Semarang. Mereka memberikan pembekalan dan pelatihan ke WBP di sini saat itu kurang lebih dua minggu, selanjutnya tinggal para WBP yang sudah mengikuti pelatihan dan semakin mahir dipandu oleh pembina untuk melakukan regenerasi sampai sekarang ada 10 WBP yang membatik di tempat ini,” kata Supit.

Ia menambahkan, Batik L’Prado kini telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan terus berkembang.

“Untuk batik tulis sudah memproduksi sekitar 650 lembar, batik cap 200, dan batik ecoprint 400,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar produksi, setiap hasil karya yang terjual memberikan manfaat langsung bagi warga binaan.

“Setiap produk yang dihasilkan dan berhasil dipasarkan akan memberikan bagian bagi WBP yang terlibat. Pembagian hasil ini dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku sebagai penghargaan atas kerja dan keterampilan mereka,” jelas Joune.

Proses pembinaan tidak selalu mudah, terutama bagi warga binaan yang tidak memiliki dasar seni. Kepala Subseksi Kegiatan Kerja, Debby Dorondo, menyebut regenerasi menjadi kunci keberlanjutan program.

“Saat ini sudah tidak ada instruktur dari luar. WBP yang sudah lama membatik melatih WBP baru secara terus menerus . Karena itu, kami merekrut WBP dengan masa pidana lebih dari satu tahun agar prosesnya bisa optimal,” katanya.

Menurut Debby, kestabilan emosi sangat memengaruhi kualitas batik yang dihasilkan.

“Membatik membutuhkan ketelitian. Proses normalnya sekitar 14 hari, itupun tergantung cuaca karena tahap akhir harus dijemur di bawah sinar matahari,” ujarnya.

Di balik setiap motif batik, tersimpan cerita rindu dan harapan. Salah seorang WBP yang terlibat dalam produksi batik mengaku awalnya kesulitan, namun perlahan menemukan makna dalam setiap goresan.

“Awalnya susah-susah gampang, tapi karena dilatih terus akhirnya bisa. Saya sudah sekitar satu tahun lebih membatik di sini,” tuturnya.

Bagi WBP lain, membatik menjadi cara menenangkan diri saat rindu anak.

“Sebagai seorang ibu pasti kepikiran anak, apalagi anak saya baru mau dua tahun. Kalau sudah rindu, saya pilih datang mencanting, meskipun hari libur atau tidak ada pesanan,” katanya lirih.

Keterampilan ini menumbuhkan harapan baru bagi masa depan mereka setelah bebas.

“Semoga dengan keterampilan dari sini saya bisa bekerja di tempat membatik, atau kalau Tuhan berkenan bisa usaha sendiri di rumah,” ucap seorang WBP lainnya.

Saat ditanya pesan untuk anak kelak, seorang ibu WBP tersenyum kecil.

“Saya mau tunjukkan ke anak batik ini dan bilang, dulu waktu mama di dalam, tiap kali rindu pa ade, mama pergi ke ruangan membatik mo ba canting,” kuncinya.

Latest from Same Tags