08 March 2026

Drama Kolosal Warnai Peringatan 80 Tahun Peristiwa Merah Putih oleh Pemprov Sulut

4 mins read

KANALMETRO, MANADO — Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menggelar upacara peringatan 80 tahun Peristiwa Merah Putih di Lapangan KONI Sario, Manado, Sabtu 14 FEBRUARI 2026. Momentum bersejarah yang terjadi pada 14 Februari 1946 itu kembali dikenang sebagai tonggak perjuangan rakyat Sulut dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di tanah Nyiur Melambai.

Upacara dipimpin langsung oleh Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus dan dihadiri ribuan peserta dari unsur TNI-Polri, pelajar, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat umum. Peringatan delapan dekade Peristiwa Merah Putih ini menjadi refleksi atas semangat patriotisme rakyat Sulut yang dikenal tak pernah padam.

Dalam sambutannya, Gubernur Yulius menegaskan bahwa nilai perjuangan para pahlawan harus terus dihidupkan dalam menghadapi tantangan zaman modern. Ia menyebut Peristiwa Merah Putih sebagai simbol ketangguhan dan keberanian rakyat Sulawesi Utara dalam menjaga kedaulatan bangsa di wilayah paling utara Pulau Sulawesi.

” Semangat kemerdekaan tidak pernaj pudar di tanah Nyiur Melambai. Ini sebagai bentuk menjaga kedaulatan bangsa di ujung Sulawesi. Ini bukti darah patriotisme mengalir kental di anak bangsa Sulwesi Utara,” terang Gubernur saat membawakan sambutan.

“Peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk menegakkan kembali harga diri, keberanian, dan semangat juang para pahlawan,” tegasnya di hadapan ribuan pasang mata.

Gubernur juga mengulas kembali peristiwa heroik di Tangsi Militer Teling yang kerap disebut sebagai ‘proklamasi kedua’ bagi Sulawesi Utara. Saat itu, para pejuang menurunkan bendera penjajah dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih sebagai simbol perlawanan dan kedaulatan.

Semangat perjuangan tersebut dirangkum dalam tema peringatan tahun ini Bakti kami demi Pertiwi, dari Sulut untuk Nusantara yang mencerminkan komitmen daerah untuk terus berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Rangkaian kegiatan peringatan 80 Tahun Peristiwa Merah Putih 2026 juga diisi dengan berbagai agenda edukatif dan atraktif. Di antaranya Merah Putih Panahan Sulut Open, pembagian bunga dan cokelat kepada masyarakat, serta drama kolosal sejarah yang menggambarkan perjuangan putra-putra terbaik Sulawesi Utara.

Drama kolosal tersebut menampilkan kisah kepahlawanan Letnan Kolonel Charles CJ Taulu bersama Sersan SD Wuisan yang menggerakkan pasukan serta rakyat untuk mengambil alih markas militer Belanda. Rencana aksi itu telah disusun sejak 7 Februari 1946 dengan dukungan tokoh sipil Bernard W Lapian.

Meski para pimpinan pasukan sempat ditangkap oleh tentara Belanda sebelum penyerbuan dilakukan, semangat perlawanan tidak surut. Komando kemudian diambil alih oleh Mambi Runtukahu yang memimpin anggota KNIL asal Minahasa. Bersama rakyat Manado, mereka berhasil membebaskan para pimpinan yang ditawan dan mengibarkan kembali bendera Merah Putih setelah merobek bagian biru dari bendera Belanda.

Dalam peristiwa tersebut, sejumlah pimpinan militer Belanda berhasil ditahan, termasuk Letnan Verwaayen, Kapten Bloom, Letnan Kolonel de Vries, serta Residen Coomans d’Ruyter beserta anggota NICA. Meski pengambilalihan kekuasaan itu hanya berlangsung sementara, peristiwa tersebut menjadi simbol keberanian rakyat Sulut melawan penjajahan.

Menariknya, drama kolosal ini disutradarai langsung oleh Gubernur Yulius Selvanus. Penampilan para pemain yang membawakan kisah heroik tersebut sukses mengundang decak kagum peserta upacara dan masyarakat yang memadati Lapangan KONI Manado.

Selain drama sejarah, kegiatan juga dimeriahkan dengan defile yang menampilkan berbagai potensi daerah, mulai dari seni dan budaya hingga olahraga. Atraksi tarian Maengket massal, Masamper massal, olahraga bela diri massal, tarian Dana-dana, pertunjukan kolintang, hingga musik bambu turut menyemarakkan suasana.

Tak ketinggalan, atraksi dari TNI AD juga menambah semarak peringatan 80 Tahun Peristiwa Merah Putih. Keseluruhan rangkaian kegiatan menjadi bukti bahwa semangat perjuangan tidak hanya diwujudkan dalam bentuk perlawanan fisik, tetapi juga melalui pelestarian budaya dan persatuan masyarakat.

Latest from Same Tags