KANALMETRO, TOMOHON – Upaya percepatan penurunan Stunting di Kota Tomohon hingga kini masih terus menjadi perhatian dari Pemerintah Kota (Pemkot).
Terkait itu maka Wali Kota Caroll Senduk membentuk tim percepatan penurunan Stunting di Tomohon yang dipimpin Wakil Wali Kota Wenny Lumentut.
Tim itu telah dilantik Senduk di rumah dinas Wali Kota, Selasa (7/6/2022).
Senduk dalam sambutanya mengatakan Pemkot berkomitmen untuk melakukan upaya percepatan pencegahan dan penurunan stunting dengan melakukan aksi konvergensi sebagaimana yang diamanatkan.
“Untuk itu marilah kita secara bersama – sama dalam kegiatan Rembuk Stunting ini memberikan sumbangan pemikiran dalam bentuk masukan dan saran untuk mengiplementasikan penurunan stunting di Kota Tomohon sehingga arah pembangunan yang kita sepakati bersama ini dapat bermanfaat dan senantiasa berpihak pada kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Kota Tomohon,” ajak Senduk
Lumentut menuturkan dalam penanganan stunting perlu ada peran serta dari semua pihak.
“Karena dengan adanya keterlibatan seluruh perangkat daerah termasuk yang di lantik hari ini merupakan upaya percepatan penurunan stunting yang terintegrasi, terpadu dan sinergitas dari lintas sektoral melalui beberapa program yang kedepanya akan dijalankan oleh tim dan pemangku kepentingan,” jelas Lumentut.
Hadir dalam kegiatan unsur – unsur Forkopimda Ketua TP PKK Kota Tomohon drg Jeand’Arc Senduk – Karundeng, Jajaran Pemerintah Kota Tomohon.
Sementara diperoleh data prevalensi tiga tahun terakhir stunting di Tomohon adalah 19,22 persen di 2018, 2019 berjumlah 12,40 persen sedangkan 2020 yakni 1,32 persen.
Sekedar diketahui Stunting adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding anak seusianya. Di Indonesia, kasus stunting masih menjadi masalah kesehatan dengan jumlah yang cukup banyak.
Hal ini disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dengan manifestasi kegagalan pertumbuhan (growth faltering) yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Dimana kekurangan gizi pada masa janin dan usia dini akan berdampak pada perkembangan otak. Rendahnya kemampuan kognitif yang akan mempengaruhi prestasi sekolah dan keberhasilan pendidikan.
Dalam jangka panjang, kekurangan gizi pada awal kehidupan akan menurunkan produktivitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan dimasyarakat.

