27 October 2026

Lewat Lokatana 2025 Generasi Muda Diajarkan Rawat Budaya dan Alam

2 mins read
Kegiatan Lokatana di Woloan, Jumat (20/6/2025). foto: dok panitia
Kegiatan Lokatana di Woloan, Jumat (20/6/2025). foto: dok panitia

KANALMETRO, TOMOHON — Ditengah zaman yang makin cepat dan bising, Lokatana hadir sebagai perayaan sunyi yang penuh makna tentang hubungan manusia dengan alam, akar tradisi, dan irama hidup yang selaras. 

Edisi kedua Lokatana digelar Jumat 20 Juni 2025 di Amphiteater Woloan, Tomohon dengan mengangkat tema Roots & Rhythm atau Akar dan Irama.

Kegiatan yang digagas Yayasan Masarang dan PT KAI Meya Indonesia, bukan sekadar festival seni biasa. Melainkan ruang pulang tempat anak zaman kini menengok kembali jejak-jejak leluhur mereka lewat seni, musik, diskusi, hingga aksi nyata menjaga lingkungan.

Acara dibuka dengan Tarian Ma’zani oleh Pusat Kebudayaan Tombulu (Puketo) yang menggambarkan harmoni antara gerak tubuh dan spirit tanah yang ditapaki. 

Salah satu bagian penting dalam Lokatana adalah Loka Pande, sesi diskusi dan pembelajaran yang mempertemukan pengunjung dengan para pelaku budaya dan pegiat akar lokal.

Ruthy Kapoh, perwakilan dari Pusat Kebudayaan Tombulu menjelaskan dalam pemajuan kebudayaan pihaknya terus berusaha melakukan beberapa hal. 

“Yang sudah mulai jalan saat ini, pelatihan Ma’zani di setiap sekolah di Woloan,” kata wanita seharinya sebagai dosen ini.

Namun, semangat ini tidak tanpa tantangan. Hal tersebut dijelaskan Rosevelty Kapoh selaku perwakilan dari Dewan Adat Woloan menyoroti kurangnya dukungan dari pemerintah terhadap kegiatan serupa tahun lalu. 

“Tahun lalu kami melakukan kegiatan adat, sangat disayangkan seakan tidak ada kepedulian dari pemerintah, dimana muncul isu seakan-akan kegiatan tersebut berbau politik sehingga tidak mendapat dukungan. Ini suatu pandangan yang sangat sempit soal kebudayaan,” tegas Kapoh.

Dari sisi aktivis muda, Belarmino Lapong dari Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Tomohon menambahkan tantangan lain, yakni stigma sosial. 

“Tantangan dalam pelestarian kebudayaan saat ini yaitu terkait stigma dari masyarakat. Pembentukan opini dari lembaga agama maupun pemerintah ini, salah satu,” katanya.

Meski demikian, antusiasme generasi muda dalam sesi diskusi menjadi sorotan tersendiri. Para generasi Z yang hadir tampak aktif menyimak dan terlibat dalam dialog warisan budaya Tombulu.

Editor: Roni Sepang

Latest from Same Tags