27 October 2026

Hamka Circle Bahas Dakwah Multikultural Buya HAMKA terhadap Etnis Tionghoa

3 mins read

KANALMETRO – Hamka Circle menggelar diskusi perdana bertajuk Dakwah Multikultural Buya HAMKA terhadap Etnis Tionghoa, Jumat 29 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung secara daring ini menjadi ruang refleksi terhadap pemikiran dan strategi dakwah inklusif Buya HAMKA yang dinilai masih relevan dalam menjawab tantangan masyarakat multikultural Indonesia saat ini.

Diskusi dibuka oleh Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (Uhamka), Prof Ai Fatimah Nur Fuad PhD. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya membangun academic milieu di lingkungan perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan intelektual dan penguatan kapasitas akademik dosen serta peneliti.

“Fakultas Agama Islam Uhamka mendirikan sebuah pusat studi yang bernama Center for Islam and Civilization Studies (CIVIC), untuk dapat melakukan akselerasi dalam bidang kajian dan penelitian para akademisi sehingga mereka dapat mengembangkan profesiona;itasnya sebagai dosen dan peneliti”, Ungkap Ai Fatimah, yang merupakan pengurus LHKI PP Muhammadiyah ini.

Direktur CIVIC FAI Uhamka, Muhammad Abdullah Darraz, dalam kesempatan tersebut menjelaskan bahwa Hamka Circle merupakan salah satu program rutin yang dirancang untuk memperkuat tradisi kajian ilmiah di kampus melalui pendekatan interdisipliner dalam studi keislaman. Menurutnya, pemikiran Buya HAMKA perlu terus dihidupkan agar tetap relevan bagi generasi masa kini.

“Sebagai diskusi perdana kami mengangkat tema tentang Dakwah Multikultural Buya Hamka, untuk memastikan pemikiran Buya Hamka mengenai inklusivitas, dialog antarbudaya, dan keadilan sosial dapat diakses oleh generasi muda serta diimplementasikan dalam konteks tantangan zaman modern,” ujar Darraz.

Sementara itu, dosen FAI Uhamka, Dr. Jaja Nurjannah, tampil sebagai narasumber utama yang mengulas pendekatan dakwah Buya HAMKA terhadap komunitas Tionghoa di Indonesia. Dalam paparannya yang dipandu moderator Dwi Setyowati, ia menjelaskan bahwa Buya HAMKA mengedepankan pendekatan budaya yang humanis, dialogis, dan penuh empati dalam membangun relasi lintas etnis.

“Dakwah Buya HAMKA terhadap etnis Tionghoa adalah bukti nyata dari dakwah multikultural yang berbasis pada pemahaman psikologi sosial dan penghormatan budaya. Beliau tidak mendekati mereka dengan sikap menghakimi, melainkan dengan pintu dialog yang terbuka lebar dan penuh empati. Ini adalah teladan Islam yang sejuk dan merangkul,” ungkap Dr. Jaja Nurjannah dalam paparannya.

Diskusi yang diikuti akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi sosial tersebut berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan besarnya minat publik terhadap gagasan dakwah multikultural dan nilai-nilai inklusivitas yang diwariskan Buya HAMKA. Ke depan, Hamka Circle diharapkan menjadi forum strategis yang secara konsisten mengkaji pemikiran Buya HAMKA dari berbagai perspektif, mulai dari sastra, politik, hingga teologi kemanusiaan.

Latest from Same Tags