29 May 2024

/

Lahirnya Roong Tinoor, Budaya Tountemboan di Tanah Toumuung

4 mins read
Foto 40 tahun perkawinan Keluarga Arnold Purukan - Marcela Sulu di kampung tua Tinoor. (foto : ist)

TOMOHON – Melalui seminar sejarah yang berjalan hampir sepuluh jam, akhirnya berdirinya Roong Tinoor, sebagai satu-satunya kampung dengan sub etnis Tountemboan di tanah Tomohon disepakati. Tanah Toumuing atau Tomohon lebih dikenal dengan budaya Tombulu, namun terdapat sebuah kampung di batas utara Kota Religius yang memiliki keunikan tersendiri karena menganut adat Tountemboan. Lahirnya Roong Tinoor dari perspektif sejarah, sesuai dengan bahasannya Tinoor diambil dari kata Aitoor dalam bahasa Tountemboan berarti berdiri. Dengan seminar bernuansa interaktif dipandu presenter Senior, Reidy Sumual, yang juga saat ini sebagai Ketua KPID Sulut, akhirnya para tokoh masyarakat dari Kelurahan Tinoor 1 dan Tinoor 2 dalam forum seminar akhirnya setuju dan sepakat menetapkan tanggal berdirinya Roong Tinoor pada 31 Agustus 1775.

Begitu banyak hal terkuak dalam kegiatan tersebut, guna memberi pemahaman sekaligus mengenal lebih dekat lahirnya Roong Tinoor, mulai dari Mawale atau Kampung Tua sebuah kawasan enklave (kantung) sub-etnis Tountemboan di tanah Tombulu lalu menjadi perkampungan awal dari negeri Tinoor.

Seminar Sejarah dan berdirinya Roong Tinoor di BPU kelurahan disepakati berdiri pada 31 Agustus 1775

Ketua Panitia, Stevano Purukan mengatakan kegiatan ini sudah lama ingin dilakukan.

“Kami sudah lama bercita-cita dan berkeringat untuk membuat seminar ini. Namun baru kali ini bisa terealisasi,” ujar Purukan yang didampingi Rolly Toreh Sekretaris Panitia kegiatan.

Mengenal Roong Tinoor, satu-satunya peradaban Tountemboan di tanah Toumuung

Wakil Wali Kota Wenny Lumentut yang turut hadir dalam seminar penetapan sejarah dan Hari Ulang Tahun Berdirinya Roong Tinoor, mengapresiasi langkah tersebut.

“Lewat seminar dan penetapan ini diharapkan menjadi pedoman dan landasan sejarah bagi anak cucu kita. Bahkan tak hanya seputar Roong Tinoor yang tapi juga bagi masyarakat Kota Tomohon bahkan Provinsi Sulawesi Utara. Ini menjadi langkah menghasilkan data profil dan keadaan Tinoor Raya saat ini, terlebih dalam upaya menginventarisir potensi dan keberadaan tiap kelurahan di Kota Tomohon,” sebut Lumentut ketika membuka kegiatan seminar di BPU Kelurahan Tinoor Dua.

Lumentut mengungkapkan memiliki kenangan tersendiri dengan Roong Tinoor. Karena sejak 40 tahun lalu telah berkunjung ke Tinoor ini.

“Dimana orang tua angkat dari ayah saya merupakan warga Tinoor yakni opa Safari Rempas, sehingga waktu kecil sering datang ke sini. Semoga seminar ini memberi output bagi masyarakat Kota Tomohon untuk mengetahui catatan awal sejarah berdirinya Kampung Tinoor,” tutur Wawali Wenny.

Sebagai narasumber utama, Judie Turambi mengakui lewat seminar sejarah berdirinya Roong Tinoor ini menjelaskan cikal bakal berdirinya kampung Tinoor.

“Selain itu bisa merumuskan bersama sejarah Roong Tinoor yang akan digunakan oleh anak cucu kita kelak, berdasarkan fakta sejarah yang ditemui dikolaborasikan dengan perspektif budaya bagaimana peradaban Tountemboan di tanah Toumuung ini lahir dan tumbuh hingga saat ini,” terang Turambi yang merupakan penggiat sejarah putra asli Tomohon ini.

Seminar ini menghadirkan narasumber dibidang sejarah seperti Dosen Ilmu Budaya dan Sastra Unsrat Dr Ivan Kaunang, sementara para penanggap tokoh-tokoh masyarakat Tinoor Satu dan Tinoor Dua, Tonaas Rinto Taroreh, Miky Sondakh, Emil Lalawi, Hengkie Purukan, Henny Lalawi, Max Legi, Mangkasa dan pemerhati budaya Rikson Karundeng.

Hadir pula, Wakil ketua DPRD Kota Tomohon Drs Johny Runtuwene DEA, Kadis Pariwisata Masna Pioh SSos, Lurah Tinoor Satu Windy Karundeng SE, Lurah Tinoor Dua Jackie Rindengan SPd.

Peserta kegiatan, para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh pendidikan, dan tokoh perempuan.(wan)

Baca Juga : Nama Jalan Henk Ngantung Mulai Didengungkan

Latest from Same Tags