KANALMETRO, TOMOHON – Dalam perayaan 35 tahun tahbisan Gereja Paroki Maria Ratu Damai (MRD) Tomohon, 110 umat setempat menerima Sakramen Krisma dari Uskup Manado Mgr Estephanus Benedictus Rolly Untu MSC, Sabtu (4/6/2022).
Penerimaan Sakramen Krisma terhadap umat di Paroki MRD Tomohon dilangsungkan dalam misa inkulturatif dengan berbahasa Tombulu. Bahkan para Krismawan dan Krismawati mengenakan pakaian adat Minahasa.
“Gedung ini adalah kenangan tentang mereka yang mendirikannya. Bukan hanya dalam bentuk fisik melainkan gereja yang hidup,” kata Uskup Untu.
Sehingga menurutnya penerimaan Sakramen Krisma ini menjadi buah nyata kehadiran Tuhan, teristimewa kehadiran Roh Kudus di tengah-tengah kita yang dirayakan pada hari minggu Pentakosta, 50 hari setelah kebangkitan Tuhan, sesudah 10 hari setelah kenaikan Yesus ke Surga, Roh Kudus turun atas para rasul yang kita maknai sebagai peristiwa Pentakosta.
Lebih lanjut bagi para krismawan-krismawati Uskup Untu menjelaskan terkait nama yang digunakan yaitu Gerardus – Gerarda.
“Santo Gerardus pada usia lima tahun sudah berjumpa dengan Tuhan yang memberikannya sekeping roti. Sudah rindu menyambut Tuhan dalam hati, meskipun dirinya masih kecil. Lahir tahun 1726 dan meninggal pada 1955, dalam perjalanannya memberikan kesaksian bahkan penyembuhan, ini membuktikan kita bisa hidup serta menjadi saksi Tuhan,” lanjutnya.

Selepas perayaan Ekaristi, para krismawan-krismawati dialog singkat bersama Uskup Untu didampingi Pastor Paroki MRD Berty Tijow MSC. Selanjutnya dilaksanakan acara syukuran bersama umat setempat sekaligus pencanangan Gereja Paroki MRD sebagai destinasi wisata religius budaya di Kota Tomohon.
Dalam perayaan Ekaristi itu, Uskup Untu ikut didampingi Pastor Tijow bersama Harry Singkoh MSC, Alexander Tamangendar Pr, Decky Ogi MSC bersama Diakon.
Sementara dari informasi yang dirangkum, perjalanan gereja MRD Tomohon berawal bulan Juli 1986 ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Mgr Theodorus Hubertus Moors MSC selaku Uskup Manado waktu itu.
Ketika itu Uskup Moors didampingi oleh Pastor Simon Ruiter MSC dan Pastor Gerrit Janssen MSC selaku pastor paroki Roh Kudus Matani yang wilayah pelayanannya juga meliputi umat di Kelurahan Walian dan Uluindano.
Kemudian proses pembangunan gedung Gereja dimulai. Dan atas upaya Pastor Janssen, sekitar setahun lamanya, pembangunan gedung Gereja rampung.
Pastor Janssen sendiri sebelum menggantikan pastor Paroki Roh Kudus yang waktu itu dijabat oleh Pastor Christophorus de Jong MSC, bertugas sebagai pembina di Seminari Kakaskasen Tomohon bersama confrater Pastor Simon Ruiter MSC.
Pastor Janssen pula yang membangun gedung Musica Sacra Tomohon yang terletak berdampingan dengan Gereja Paroki MRD.
Saat ini Pastor Janssen menikmati masa tuanya di Biara MSC di Kota Tilburg Belanda. Sementara Pastor Ruiter tinggal di sebuah kampung bernama Langenboom.
Setelah menghabiskan waktu sekitar setahun, akhirnya pada 4 Juni 1987, Gereja yang didedikasikan kepada Maria Ratu Damai ini kemudian ditahbiskan oleh Duta Besar Vatican saat itu yakni Mgr Francesco Canalini didampingi Uskup Manado Mgr Moors, Uskup Agung Ujung Pandang (saat ini Makasar) Mgr Franciscus van Rooesel CICM bersama Pastor Janssen dan sejumlah Imam di Keuskupan Manado.

