KANALMETRO, TOMOHON – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Manado angkat bicara terkait tindakan Kepala Humas Universitas Negeri Manado (Unima) Titof Tulaka saat memberikan keterangan pers terkait kematian perempuan EM salah satu mahasiswi di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP).
“Apa yang disampaikan oleh Humas Unima dalam memberikan keterangan pers terkait kematian seorang mahasiswa merupakan tindakan intimidasi terhadap kinerja Jurnalis,” tegas Ketua AJI Manado, Fransiskus Talokon, Kamis 1 Januari 2026.
Dia menegaskan bahwa pihak Unima seharusnya memberikan saja klarifikasi maupun keterangan terkait peristiwa tersebut. Termasuk menjawab apa yang akan menjadi pertanyataan dari para Jurnalis saat melakukan konferensi pers.
“Bentuk intimidasinya jelas, dimana pihak humas menegaskan bahwa Unima telah menyiapkan judul berita dan meminta kepada para Jurnalis untuk tidak menggantinya. Tidak boleh begitu, itu sama saja dengan intimidasi dan mengekang,” tambah Fransiskus Talokon.
Karena menurut Dia, Jurnalis tidak bisa diintervensi seperti itu karena itu jelas melanggar aturan kinerja pers. Apalagi setiap karya yang dihasilkan oleh para Jurnalis nantinya akan menjadi konsumsi publik.
Dimana publik saat itu menunggu informasi terbaru terkait kasus tersebut. Namun jika diintimidasi seperti itu maka sama saja dengan mengaburkan fakta yang hendak diungkap dalam setiap karya oleh para Jurnalis.
Oleh karena itu Dia juga meminta kepada Kepala Humas Unima agar banyak belajar dan mendalami soal berbagai aturan mengenai kinerja Pers, termasuk Kode Etik Jurnalistik.
“Ingat, jangan pernah mengatur Jurnalis dalam mengungkap fakta yang terjadi. Jangan ingin membuat atasan senang atau pencitraan lembaga lantas seenaknya mengatur seperti itu,” tambah Dia.
Dia juga meminta kepada Rektor Unima agar bisa mendidik bawahan seperti itu yang bisa merusak citra lembaga pendidikan tersebut. Apalagi perguruan tinggi terkenal dengan melahirkan banyak guru untuk mendidik anak bangsa.
Fransiskus Talokon juga mengajak kepada para Jurnalis agar dalam menjalankan tugas tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik. Karena hal itu merupakan kekuatan utama dan pagar api setiap jurnalis ketika melakukan tugasnya.
Sekedar diketahui, Rabu 31 Desember 2025 ketika hendak memberikan keterangan pers terkait kematian EM yang diduga pernah menjadi korban pelecehan oleh salah satu oknum dosen di Unima. Kepala Humas Unima meminta para Jurnalis untuk tidak merubah judul berita yang telah disiapkan oleh pihaknya.

