14 June 2024

/

Remaja Disabilitas Manado Digarap Delapan Lelaki Selama Dua Hari

4 mins read
Ilustrasi korban seksual (anete lusina-Pexels)
Ilustrasi korban seksual (Pexels)

KANALMETRO, MANADO – Seorang Remaja perempuan warga Kota Manado yang merupakan penyandang disabilitas dijadikan korban hawa nafsu oleh delapan orang lelaki.

Bahkan korban yang masih berusia 15 tahun ini digarap selama dua hari dengan cara bergantian oleh para pelaku, 19 hingga 20 Mei 2021.

Kedelapan pelaku itupun berhasil diamankan Tim Resmob Ditreskrimum Polda Sulawesi Utara (Sulut) setelah mendapat laporan dan melakukan pengembangan.

Mereka adalah CH (34) warga Perkamil, SE (35), ATB (25), dan EP (33) warga Malalayang, DW (39) warga Wanea, RNP (26) dan ARR (36) warga Pineleng Minahasa, serta ARW (33) warga Mandolang Minahasa.

Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast dalam keterangan pers, Rabu (16/6/2021) mengatakan, pengungkapan kasus ini berdasarkan Laporan Polisi di SPKT Polda Sulut yang diterima pada 22 Mei lalu.

“Para tersangka mencabuli dan menyetubuhi korban secara bergantian di tiga TKP berbeda. TKP pertama di Desa Kalasey Minahasa, kedua di Kelurahan Malalayang Dua dan ketiga di Kelurahan Malalayang Satu Manado,” ujar Abast.

KRONOLOGIS KEJADIAN

Kejadian berawal 19 Mei 2021 sekitar pukul 12.00 WITA, korban ketika itu berada di jalan dekat sebuah SD Negeri di Malalayang. Lalu didatangi tersangka CH yang mengemudikan kendaraan angkutan umum, selanjutnya mengajak korban jalan-jalan.

Korban lalu dibawa ke sebuah rumah di perkebunan Desa Kalasey dan disetubuhi oleh CH. Usai melakukan aksinya, sekitar pukul 14.00 WITA tersangka CH membawa dan menurunkan korban di sekitar Terminal Malalayang.

Tak lama kemudian datang tersangka SE dan mengajak korban ke bekas bengkel di Kelurahan Malayang Dua. Di tempat tersebut ada beberapa teman SE yang sedang bermain judi sambil minum minuman keras (miras).

“Korban lalu disuguhi miras, selanjutnya disetubuhi oleh SE dan teman-temannya secara bergantian, hingga keesokan paginya,” jelas Abast di Mapolda Sulut.

Kemudian Kamis (20/5/2021) sekitar pukul 07.00 WITA, korban diajak tersangka EP ke rumah kerabatnya di Kelurahan Malalayang Satu.

Disana korban disuruh mandi, ganti pakaian dan diberi makan oleh EP. Kemudian korban diajak tidur dan disetubuhi.

Pada hari itu juga, sekitar pukul 18.00 WITA, korban dijemput oleh kakaknya kemudian diajak pulang.

KRONOLOGIS PENANGKAPAN

Dalam penangkapan tersebut, petugas juga berhasil mengamankan sejumlah barang bukti. Antara lain beberapa pakaian yang dipakai korban, botol bekas air mineral ukuran 1 liter yang digunakan untuk tempat miras, papan dan tripleks di bekas bengkel yang sudah dibongkar pemiliknya.

Serta screenshoot postingan salah seorang tersangka di Facebook terkait keberadaan para tersangka bersama korban di TKP kedua atau di bekas bengkel tersebut.

Polisi menunjukan para pelaku cabul remaja disabilitas di Manado dalam konferensi pers
di Polda Sulut (ist)

“Para tersangka beserta barang bukti telah diamankan di Mapolda Sulut. Kasus ini masih dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan adanya tersangka lain,” tambah Abast.

Dirreskrimum Polda Sulut AKBP Gani Siahaan menambahkan, para tersangka ditangkap di lokasi berbeda, yakni di wilayah Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Selatan.

Penangkapan, sambungnya, juga berdasarkan hasil olah TKP, keterangan sejumlah saksi, juga postingan salah satu tersangka tersebut.

“Tujuh tersangka ditangkap dan dilakukan tindakan tegas dan terukur karena berusaha melarikan diri. Sedangkan satu tersangka menyerahkan diri karena mengetahui teman-temannya sudah ditangkap,” kata Siahaan.

Dijelaskannya pula bahwa para tersangka akan dijerat dengan pasal 81 ayat (1), ayat (2) Jo pasal 76 D dan pasal 82 ayat (1) Jo pasal 76 e. Undang –Undang (UU) RI nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan PP Pengganti UU RI Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi UU.

Subsider pasal 81 ayat (1), ayat (2) dan pasal 82 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Ancaman hukumannya minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara serta denda paling banyak 5 miliar rupiah.

Latest from Same Tags