22 July 2024

Buku Nasionalisme Dalam Seni dan Pemerintahan: A Tribute to Henk Ngantung Diluncurkan

2 mins read
Foto bersama usai peluncuran buku

KANALMETRO, TOMOHON – Sebuah momen bersejarah terjadi di Hotel Wise Tomohon. Peluncuran buku “Nasionalisme dalam Seni dan Pemerintahan: A Tribute to Henk Ngantung” menjadi penghormatan yang tepat untuk mengenang sosok Hendrik Hermanus Joel Ngantung, atau lebih dikenal sebagai Henk Ngantung, yang hari itu bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-103 pada Jumat (1/3/2024).

Henk Ngantung, seorang seniman dengan jiwa nasionalisme yang tinggi, telah memberikan kontribusi yang tak terlupakan dalam bidang seni dan pemerintahan. Lahir di Bogor pada 1 Maret 1921, Henk merupakan sosok yang memiliki kepekaan seni yang luar biasa sejak masa kecilnya di Kota Tomohon. Kini, kisah inspiratifnya dituangkan dalam sebuah buku yang mengupas sisi-sisi tersembunyi dari kehidupannya.

Acara peluncuran buku ini tak hanya sekadar presentasi, namun juga merupakan sebuah bedah buku yang melibatkan akademisi, seniman, dan perwakilan media. Pdt Richard Siwu, Seniman Arie Tulus, dan Wapemred Manado Post Filip Kapantow turut serta untuk memberikan wawasan tentang kontribusi Henk Ngantung dalam seni dan pemerintahan.

Judie Turambi, penulis buku ini, menjelaskan bahwa tujuan dari penulisan buku ini adalah untuk mengabadikan karya dan jasa Henk Ngantung, terutama dalam seni lukis, serta memperkenalkannya sebagai salah satu pahlawan nasional.
“Dalam buku setebal 110 halaman tersebut, terdapat 5 bab yang mengungkap sisi lain dari kehidupan Henk, yang sebelumnya belum pernah dipublikasikan,” terang Turambi.

Henk Ngantung bukan hanya dikenal sebagai Gubernur DKI Jakarta di era Presiden Soekarno, tetapi juga sebagai seorang seniman yang berperan aktif dalam memerjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui karya seninya.

“Karyanya yang historis telah mengabadikan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah bangsa, dan inilah alasan mengapa Henk perlu diapresiasi oleh kota kelahirannya, Tomohon,” lanjutnya.

Dua rekomendasi penting juga diajukan dalam acara tersebut kepada Pemerintah Kota Tomohon. Pertama, untuk memberikan nama Jalan Raya dari Kelurahan Matani – Tondano dengan nama Henk Ngantung. Kedua, pembuatan ikon Patung Henk Ngantung dan L.N. Palar sebagai identitas Kota Tomohon.

“Dengan peluncuran buku ini, kita tidak hanya mengenang Henk Ngantung sebagai seorang seniman dan pemimpin, tetapi juga menghargai warisan budaya dan perjuangannya dalam membangun karakter bangsa Indonesia,” harap sejarawan Tomohon ini.

Latest from Same Tags